Tulisan ini dibuat untuk menyukseskan Lomba Blog Open Source P2I-LIPI dan Seminar Open Source P2I-LIPI 2009.
http://www.informatika.lipi.go.id/seminar/lombablog
http://www.informatika.lipi.go.id/seminar/
IGOS (
Apa bisa ya pindah-pindah dengan gampang, katanya orang kaya pindah dari rumah yang satu kerumah yang lain gampang. Apa hubungannya, gak nyambung. Ya begitulah software komputer. Gak seperti orang kaya bisa pindah
Begini deh. Biasa orang kalau sudah mengenal apa saja yang berhubungan dengan komputer ya itu lah yang menjadi pegangan. Emang pacaran idih kaya anak muda aja.
Kata orang sehidup semati, udah susah pindah kelaen hati. Lalu …
Saya ambil contoh system operasi termasuk pengikut-pengikutnya, maksudnya software pendampingnya. Kalau anda sudah pake windows yang buatan Microsoft yang terkenal itu, tentunya program aplikasinya yang mendukung system operasinya juga donk. Kalau gak yah buang kelaut aja, alias gak bisa kepakek, itu dulu sekarang dah gampang kok, sekarang dah mudah kok, kata beberapa pakar. Yah tapi tetap gak segampang itukan?
Tetap aja diperlukan software ke III sebagai penghubung. Berarti tetap aja kalau mau pindah-pindah itu sulit. Apalagi untuk orang awam kayak kita-kita neh.
Nggak usah jauh-jauh, kalau sekarang saya pake windows xp lalu saya mau pindah ke vista, sebagai orang awam sulitnya minta ampun, apalagi harus masuk ke seting-seting segala macam, konfigurasi dan laen sebagainya. Sebagai orang awam bingung banget, perlu waktu untuk otak-atik biar bisa menyesuaikan diri. itu yang sama-sama windows, bagaimana yang beda system operasi yah tambah bingung deh. Intinya bahwa tidak gampang proses untuk pindah atau migrasi dari software ke software yang lain, itu membutuhkan proses dan waktu. Memang bagi masyarakat kita yang nota bene Negara berkebang menggunakan Microsoft bikin pusing kepala, bukan hanya pusing kepala tapi juga bikin kantong kempes, solusinya pake bajakan, wah urusan jadi semakin rumit nih. Tapi tak perlu dipungkiri dominasi Microsoft benar-benar telah mengakar dan sulit untuk diberantas, emangnya
Permasalahan yang paling berat adalah bagaimana membuang image pengguna komputer di
Intinya adalah jangan sampai selogan IGOS hanya menjadi selogan dan tinggal kenangan saja. Dukungan pemerintah dan masyarakat luas sangat diperlukan, terutama instansi-instansi pemerintah. Menurut saya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan IGOS agar tidak jadi selogan saja, yaitu : Pertama, dukungan yang kuat dari pemerintah sampai ke instansi-instansi paling kecil, bagaimana mau pake open source kalau kantor-kantor pemerintah saja dengan entengnya bila beli software minta harus mendukung Windows, dengan gampangnya beli peralatan komputer yang sudah lengkap dengan Windowsnya, harusnya isi dengan program open source dan lakukan pelatihan ke instansi-instansi tersebut. Ke dua dukungan masyarakat pendidikan dan sekolah-sekolah, kalau dulu saya sekolah ada pelajaran komputer ternyata gurunya hanya tau pake Windows yah ujung-ujungnya windows lagi windows lagi, lalu lihat aja buku teks pelajaran dari SD ampe SMA, materinya adalah pengenalan komputer, lalu naik dikit memperkenalkan Windows, lalu naik lagi mengerjakan aplikasi seperti Microsoft Word, berikutnya Microsoft Excel, gak lama kemudian Power Point dan Access ketingkat lanjut adalah pemrograman biasanya visual basic yang nota bene punya Microsost. Ke tiga dukungan masyarakat luas. Ke empat adalah struktur dan infrastrukturnya yang benar-benar sudah mendukung, kadang rumusan baru setengah jadi udah di glontorkan kemasyarakat jadi gak serius deh programnya.
Bisa gak kira-kira pemerintah sebelum gembar-gembor IGOS, mempersiapkan segala sesuatunya, punya planning yang tepat. Misal dipersiapkan semua instansi pemerintah menggunakan IGOS yang sudah distandarisasi termasuk aplikasi tambahannya. Lalu bagaimana persiapan migrasi, harus dipikirkan juga ada jembatan untuk migrasi tersebut, agar tidak mengalami kesulitan. Lalu lanjutkan ke tempat-tempat pendidikan, siapkan bahan ajar serta guru-guru yang mampu memberikan pendidikan mengenai IGOS. Saya sangat yakin bila dua element tersebut sudah terlaksana, akan semakin mudah mensosialisasikan IGOS. Tantangan yang paling berat adalah dunia usaha, kenapa tentunya dunia usaha sangat menginginkan system yang stabil dan riil. Bukan system yang coba-coba. Ini adalah tantangan sanggup gak dunia IT
Tulisan ini bukan bermaksud menentang IGOS, tapi hanya mengungkapkan permasalahan-permasalahan yang mungkin akan muncul, dan saya berharap jangan sampai IGOS hanya menjadi sebuah selogan saja. Dan tulisan ini bukanlah sebuah bentuk pesimisme atau melemahkan kemampuan para IT
Bagi pakar IT maju terus pantang mundur, mari sama-sama membangun negeri ini, kita tunjukkan pada dunia kalau Indonesia Mampu. Kami siap mendukung program IGOS.
Tulisan ini saya buat berdasarkan pikiran saya sendiri, jadi bila ada informasi yang saya lemparkan ternyata salah, saya mohon maaf, mungkin juga ada beberapa kutipan dari artikel-artikel lain entah saya pernah baca, tapi saat saya tulis saya tidak mencontek artikel manapun, jadi jika ada kesamaan saya mohon maaf, mungkin kebetulan saja pas pikiran kita lagi sama kalek.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar